Thursday, January 16, 2020

Apakah Membaca Al Ikhlas 3 kali dianggap telah mengkhatamkan Al Quran?

Apakah orang yang membaca Surat al-Ikhlas setiap malam sebanyak 5 kali dianggap telah mengkhatamkan al-Qur'an seluruhnya? Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab:

Dalam Surat al-Ikhlash terdapat keutamaan agung. Di dalam sebuah hadits yang sah dari Nabi disebutkan bahwa Beliau bersabda: "Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh dia itu (Surat al-Ikhlash) benar-benar sepadan dengan sepertiga al-Quran" (HR. al-Bukhâri, dalam Shahihnya, no. 5014 dan no 6643).

Keutamaan itu dikarenakan surat tersebut mengandung penyebutan sifat Allâh Di dalamnya terdapat keutamaan yang besar, dan orang yang membacanya juga mendapatkan keutamaan besar. Akan tetapi, bukan berarti orang yang membacanya, mencukupkan diri hanya dengan-membaca surat itu saja dan mengulang-ulangnya akan sama dengan orang yang membaca seluruh al-Quran. Orang yang membaca al-Quran seluruhnya, ia mendapatkan pahalanya, dan ia pun secara otomatis telah membaca Surat al-lkhlash sehingga iapun berhak mendapatkan pahala membaca surat ini, dan juga pahala membaca al-Quran seluruhnya. Nabi telah bersabda:

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka dengan bacaannya tersebut ia mendapatkan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat (penggandaan minimal). Aku tidak mengatakan: alif lâm mim itu satu huruf. Akan tetapi alif itu satu huruf lám satu huruf, dan mim satu huruf" HR. at-Tirmidzi, disebut dalam al-lâmi' no 2910, dan Shahih al-Jami' no 6345, 2673.

Jadi, membaca Surat al-lkhlas saja tidak bisa sama dengan membaca al-Quran seluruhnya. Ya, orang yang membacanya bisa meraih pahala dengan membacanya, namun tidak seperti orang yang membaca al-Quran seluruhnya.

Inilah Doa Nabi Ibrahim sehingga sholatnya tetap terjaga

Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku (QS. Ibrahim/ 14: 40). Ini adalah doa Nabi lbrahim alaihissalam; doa yang sangat agung: mengingat shalat merupakan tiang penyangga agama ini. Di antara faidah dari doa ini adalah:
  1. Pentingnya shalat, di mana shalat disebutkan secara khusus. Dan agar seseorang menjaga shalat, dan menegakkan batasan-batasannya. Dengan demikian seseorang akan tetap tegar kokoh di atas Islam dan menetapi hukum-hukumnya

  2. Urgensi tawassul dengan menyebut Rububiyyah Allâh saat berdoa, yaitu dengan mengucapkan Ya Rabb. Karena di antara sebab dikabulkannya doa adalah bertawassul kepada Allah dengan Rububiyyah-Nya. Dengan Rububiyyah Alläh lah terwujud penciptaan dan pengaturan alam semesta.

  3. Pentingnya berdoa dengan memohon secara mendesak dan meminta dengan sangat. Dan itu di antara sebab agung yang membuahkan dikabulkannya doa. Dalam doa tersebut kata Ya Rabb diucapkan berulang: yang menunjukkan doa ini dipanjatkan dengan sangat.

  4. Sudah seyogyanya bagi orang yang berdoa untuk memperbanyak meminta Allah  agar dikabulkan doanya.

  5. Sudah seyogyanya bagi orang yang berdoa agar berdoa untuk dirinya, orang tua dan juga anak keturunannya.

  6. Sudah sepatutnya agar doa seseorang adalah terkait dengan tujuan dan tuntutan agama; sebab itu adalah tujuan dan maksud yang paling penting; dan itulah yang akan menjadi kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

  7. Bahwa doa merupakan benteng bersandarnya para nabi dan rasul serta kaum shalihin.

Sunday, January 12, 2020

Ya Rabb, Masukanlah kami ke surga melalui pintu mana saja

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allâh dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allâh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allâh mempunyai karunia yang besar (QS. Al-Hadîd/57: 21)

Semua orang yang beriman kepada Allâh Ta’alla dan hari akhir pasti berharap agar dimasukkan ke dalam surga. Tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi yang tidak membosankan dan tidak diselingi kesusahan atau penderitaan, sebagaimana di dunia. Tempat yang hanya disediakan untuk orang yang beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya.

Tempat yang berisi kenikmatan yang tidak pernah diketahui dan belum pernah dirasakan manusia. Rasûlullâh bersabda: "Allâh berfirman, "Aku telah persiapkan untuk para hamba-Ku yang shalih sebagai simpanan sesuatu yang tidak pernah terlihat terlihat mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia, balha (tinggalkan atau selain)1 apa yang sudah diperlihatkan kepada kalian. 

Kemudian Beliau membaca firman Allâh Ta’alla :
Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah/32:17) (HR. Al-Bukhâri)

Itulah sebagian dari diskripsi kenikmatan surga. Tidak mengherankan, jikalau seorang yang beriman kepada Allâh dan hari akhir sangat merindukan kehidupan surga. Akhirnya, semoga Allâh Taalla menjadikan kita termasuk para hamba-Nya yang dipersilahkan memasuki surga dari pintu mana saja, sebagaimana dijelaskan oleh Rasûlullâh dalam sabdanya:  Tidaklah ada salah seorang dari kalian  yang berwudhu, lalu ia melebihkan atau menyempurnakan wudhunya lalu ia membaca (doa): aku bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi  kecuali Allâh dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan delapan pintu surga baginya, ia masuk melalui pintu yang ia kehendaki.” (HR. Muslim, no.234) 

Atau para hamba yang dipersilahkan masuk melalui pintu tertentu, sebagaimana juga dijelaskan oleh Rasûlullâh, Barang siapa membelanjakan dua barang dari hartanya di jalan Allâh, maka akan dipanggil dari pintu-pintu surga. Surga itu memiliki pintu -pintu. Barang siapa tekun dalam shalat, maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Dan barang siapa terbiasa bersedekah, maka akan dipanggil dari pintu sedekah. Barang siapa termasuk ikut serta dalam jihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad. Dan barang siapa berpuasa maka akan dipanggil dari pintu Rayyan. (HR. Al-Bukhâri, no.1897 dan Muslim no. 1027)

Ada 5 ciri orang bertaqwa menurut Al-Qur’an

Ada 5 ciri orang bertaqwa menurut Al-Qur’an surat Ali ‘Imran (3) ayat 133 – 135. Sebagai renungan kita bersama adakah kelima sifat berikut ini ada dalam diri kita : 
  1. Bersegera memohon ampunan Allah bila berbuat dosa dan mudah meminta maaf kepada sesama manusia (Tidak gengsi)
  2. Mau berinfaq/sedekah dalam keadaan lapang maupun sempit (Tidak pelit)
  3. Bisa menahan amarah (Tidak ngambekan/emosian)
  4. Mudah memaafkan kesalahan orang lain (Tidak pendendam)
  5. Senantiasa melakukan kebaikan atau berbuat baik (Tidak jahat)
Al-Qur’an - Ali ‘Imran : 133 
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa"


Al-Qur’an - Ali ‘Imran : 134
"(yaitu" orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menukai orang-orang yang berbuat kebajikan"

Al-Qur’an - Ali ‘Imran : 135
"Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui"

Tuesday, January 7, 2020

Mohonlah Ampunan dan Rahmat kepada Pemberi Rahmat Yang Paling Baik

"Ya Rabbku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik (QS. AL-Muminun/23: 118)

Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya untuk memohon dua permononan yang sangat penting yaitu: memohon ampunan dan meminta rahmat, seraya bertawassul kepada-Nya dengan tawassul yang paling utama yaitu bertawassul dengan nama-nama Allah SWT yang indah yang tidak lain adalah Asmaul Husna.

lbnu Katsir berkata: "Ini adalah arahan dari Allâh agar berdoa dengan doa ini. Bila disebutkan kata al-ghafru (ampunan) maka maknanya adalah penghapusan dosa dan menutupinya dari orang-orang. Sedangkan rahmat maknanya adalah Agar Allah meluruskan langkahnya dan memberinya taufiq (mendapatkan bimbingan dari-Nya) dalam perkataan maupun perbuatan.

Arti doa ini adalah: Ya Rabbi, tutuplah dosa-dosaku; ampunilah dengan ampunan dan maaf-Mu dan berilah aku rahmat, yaitu Engkau meluruskan langkahku, memberiku taufiq dalam perkataan dan perbuatan.

Permohonan ampun lebih didahulukan dalam doa Sebelum permohonan rahmat, dengan ampunan akan hilanglah hal-hal yang buruk; mengingat dosa-dosa yang membinasakan mendapat penghapusan. Dengan rahmat akan tercapailah apa yang diidam-idamkan berupa nikmat-nikmat duniawi dan ukhrawi (As sunah)

Wednesday, December 18, 2019

Inilah Khutbah Terakhir Iblis di Hari Kiamat, Beda Jauh Dengan Khutbah Iblis Sewaktu di Dunia

Di akhirat nanti, setelah proses penghitungan (hisab) selesai, manusia terbagi dua kelompok. Allah memasukkan orang-orang beriman dan beramal saleh ke dalam surga, sedangkan orang-orang kafir dimasukkan ke dalam neraka.

Selesai hisab itu, Iblis la’natullahi ‘alaihi (makhluk yang dilaknat Allah) berpidato di hadapan kelompok penghuni neraka. Pidato Iblis itu diabadikan oleh Allah SWT di dalam Alquran, tepatnya Surat ke-14 (Ibrahim) ayat  22.

Menurut Pengasuh Pesantren Bening Hati Sawangan, Depok, Ustaz Tazmaluddin Eldad, pidato Iblis itu  bukan pidato biasa. “Menurut Tafsir Ibnu Katsir maupun tafsir Ath-Thabari, khutbah Iblis itu merupakan pidato yang sangat menyentuh hati, bahkan sangat  menyayat hati. Semua manusia dari kelompok penghuni neraka yang mendengarnya, heboh dan menangis,” kata Tazmaluddin saat mengisi khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa Sawangan, Depok, Jawa Barat, Jumat (30/6).

Inilah terjemah Surat Ibrahim ayat 22: “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat siksaan yang pedih." (QS. 14:22)

Kemudian Allah SWT melanjutkannya dengan ayat 23: “Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan izin Rabb mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah ‘salaam.’ (QS. 14:23)” (QS. Ibrahim: 22-23)

“Mendengar pidato Iblis terlaknat tersebut, yakni ayat 22, semua penghuni neraka itu merasa  sangat susah, dan tertipu. Mereka semuanya menangis dan menyesal, namun penyesalan ketika itu tidak ada gunanya lagi. Dan mereka tambah sedih mendengar ayat 23 yang menceritakan orang-orang beriman dan beramal saleh dimasukkan ke dalam surga,” tutur Tazmaluddin.

Karena itulah, kata Tazmal, kaum Muslimin perlu mengambil hikmah Idul Fitri dengan berupaya menjadi Muslim yang kembali kepada fitrahnya. “Kembali kepada fitrah artinya kembali kepada syariat Islam. Mari tegakkan perintah agama, antara lain menegakkan shalat lima waktu dengan sebaik mungkin dan rutin mentadabburi Alquran,” ujarnya.

Salah satu gelar yang disematkan kepada bulan Ramadhan adalah syahrul Quran atau bulan diturunkannya Alquran dan bulan membaca Alquran. “Karena itu, setelah Ramadhan berlalu, kaum Muslimin harus tetap rajin membaca dan mempelajari Alquran, agar hidupnya selamat di dunia maupun akhirat,” kata Tazmal.

Tentunya, kata Tazmal, Allah punya maksud dengan mengungkapkan pidato Iblis itu di dalam Alquran. “Intinya adalah Allah memberitahukan kita mengenai hal tersebut, agar jangan sampai kita di akhirat nanti setelah hisab, mendengar khutbah Iblis. Itu adalah khutbah yang sangat menyentuh hati, tapi jangan sampai kita mendengarnya. Sebab, kalau kita mendengar khutbah Iblis tersebut, berarti kita termasuk ahli neraka.”

source : Republika

Inilah Gambaran Nyata Pertengkaran di Neraka, Para Penghuni Neraka Saling Mengutuk Satu Sama Lain

Allah Ta’ala memanggil orang kafir, munafiq, dan musyrik untuk masuk ke dalam neraka jahannam. Berasal dari kalangan jin dan manusia, para ahli neraka dimasukkan secara berurutan sesuai dengan masanya. Siapa yang terlebih dahulu kafir, ia dimasukkan ke dalam neraka pertama kali.
Kemudian diikuti oleh para ahli neraka akhir zaman. Terus menerus. Bergerombol. Berkelompok-kelompok sampai kelompok yang terakhir kali dijerumuskan ke dalam api yang dipenuhi siksa.
Setelah seluruh ahli neraka berkumpul dalam satu tempat, ada pertengkaran yang dahsyat di antara mereka. Pertengkaran ini nyata. Pertengkaran penghuni neraka ini dijamin kebenarannya oleh al-Qur’an al-Karim.
“Ya Rabb kami, mereka inilah yang telah menyesatkan kami. Oleh karena itu, datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipatganda dari siksa-siksa neraka.”
Inilah tuntutan yang disampaikan oleh ahli neraka akhir zaman, yang masuk neraka terakhir kali. Perkataan yang termaktub dalam surat al-A’raf [7] ayat 38 ini merupakan tuntutan kepada setan dari golongan jin dan manusia yang telah mengajak mereka menempuh jalan kesesatan.
Karena mereka telah mengajak hingga kami terjerumus, tuntut mereka kepada para pendahulunya di jalan kesesatan, maka berikanlah hukuman kepada mereka dengan hukuman yang berlipat-lipat!
Dalam dialog yang hidup dan menyentak ruhani orang beriman ini, Allah Ta’ala menyampaikan jawaban. Kata-Nya, “Masing-masing kalian mendapatkan siksaan yang berlipatganda!”
Alangkah celakanya mereka. Yang diajak menuntut yang mengajak, tapi tuntutan mereka dimentahkan oleh Zat Penguasa semesta. Ditolak mentah-mentah.
Belum kelar bantahan dan penolakan dari Zat Yang amat berat siksanya, pihak yang dituntut pun menyampaikan bantahan.
“Kamu tidak memiliki sedikit pun kelebihan di atas kami!” (Qs. al-A’raf [7]: 39)
Kalian sama saja dengan kami! Kalian tidak berhak mendapatkan penangguhan dan keringanan siksa! kalian sesat sebagaimana kami yang sesat.
“Kalian,” tulis Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala mengutip perkataan Imam as-Suddi saat menjelaskan ayat ini dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, “telah tersesat sebagaimana yang kami alami.”
Pihak yang dituntut membantah dengan tegas. Mereka yang masuk neraka lebih akhir bukan berarti lebih baik hingga layak mendapatkan siksa yang lebih ringan. Dua-duanya sama. Sebab kepada dua golongan ini, Allah Ta’aa telah turunkan kepadanya Rasul yang membawa petunjuk menuju jalan hidayah.
Wallahu a’lam.